Skip to content
Logo
IG
HOME ACEH NASIONAL DUNIA POLITIK HUKUM OLAHRAGA BOLA PENDIDIKAN EKONOMI OPINI
LAINNYA ▾
KRIMINAL BUDAYA KESEHATAN WISATA EDITORIAL

Tari Likok Pulo: Warisan Budaya Aceh yang Penuh Makna dan Irama

Posted on Mei 16, 2025 by admin
ist

Tari Likok Pulo merupakan salah satu warisan budaya takbenda dari Provinsi Aceh, khususnya berkembang di wilayah Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Nama “Likok Pulo” berasal dari kata “likok” yang berarti gerakan tari, dan “pulo” yang berarti pulau, merujuk pada asal usul tarian ini di Pulau Breuh atau Pulau Beras.

Sejarah dan Asal Usul
Tarian ini diyakini muncul sekitar tahun 1849 dan diperkenalkan oleh seorang ulama dari Timur Tengah bernama Syekh Ahmad Badron, yang terdampar di Pulo Aceh. Melihat kecintaan masyarakat setempat terhadap seni dan musik, Syekh Ahmad Badron memanfaatkan tarian ini sebagai media dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam melalui syair-syair yang sarat pesan moral dan keagamaan.

Baca juga: Warisan Leluhur Tetap Hidup, Petani Pulo Iboih Gelar Khanduri Blang Sambut Musim Tanam

Komposisi dan Gerakan
Tari Likok Pulo biasanya dibawakan oleh sekelompok pria yang duduk bersimpuh membentuk formasi lurus atau setengah lingkaran. Gerakan tarian ini mengandalkan koordinasi tubuh bagian atas, seperti tangan, kepala, dan badan, yang bergerak secara sinkron mengikuti irama tepukan dan lantunan syair dalam bahasa Aceh. Penari utama, yang disebut “syekh”, memimpin pertunjukan dengan menyanyikan syair-syair yang mengandung pesan-pesan keagamaan dan moral.

Musik dan Iringan
Keunikan Tari Likok Pulo terletak pada penggunaan tubuh sebagai instrumen musik utama. Para penari menghasilkan irama melalui tepukan tangan dan tubuh, serta lantunan vokal yang harmonis. Dalam beberapa pertunjukan, alat musik tradisional seperti rapai digunakan untuk menambah kekayaan irama. Syair-syair yang dinyanyikan biasanya berisi pujian kepada Tuhan, ajakan untuk hidup bermoral, serta nasihat-nasihat kehidupan.

Makna dan Simbolisme
Tari Likok Pulo bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan juga sarat dengan nilai-nilai sosial dan spiritual. Gerakan yang kompak mencerminkan pentingnya kerjasama dan persatuan dalam masyarakat. Syair-syair yang dilantunkan mengandung pesan-pesan keagamaan dan moral, menjadikan tarian ini sebagai media dakwah yang efektif. Selain itu, tarian ini juga digunakan dalam berbagai upacara adat, peringatan hari besar Islam, dan penyambutan tamu kehormatan, menunjukkan peran pentingnya dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Pelestarian dan Perkembangan
Seiring perkembangan zaman, Tari Likok Pulo terus dilestarikan oleh berbagai komunitas seni di Aceh. Upaya pelestarian dilakukan melalui pelatihan bagi generasi muda, pementasan di berbagai acara budaya, serta dokumentasi dalam bentuk tulisan dan rekaman. Tarian ini juga memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata budaya, menarik minat wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan budaya Aceh.

Editor: Ody Cempeudak
Dikutip dari berbagai sumber

Komentar Batalkan balasan

BERITA TERKAIT

27 Tahun Tragedi Simpang KKA: Antara Ingatan, Trauma dan Narasi Sejarah yang Mulai Dilupakan

OPINI

Sidang Banding Nadiem Makarim Digelar di Pengadilan Tinggi

HUKUM

Kejagung Geledah 16 Titik di Sumut dan Riau dalam Kasus Dugaan Korupsi CPO, Dokumen hingga Kendaraan Diamankan

PERISTIWA

Berita Populer

Aceh World Time Logo
PORTAL BERITA TERDEPAN

Baca Berita Terkini & Terpercaya

Informasi akurat & transparan seputar Aceh & Nasional.

Kunjungi Website
INSTAGRAM OFFICIAL

Jangan Lewatkan Update Visual Menarik!

Follow @acehworldtimenews untuk berita harian tercepat.

Follow Instagram
AKSES BERITA 24 JAM

Kabar Terkini Dalam Genggaman Anda

Cepat, tajam, dan up-to-date setiap saat.

Baca Sekarang
©2026 Aceh World Time | Design: Newspaperly WordPress Theme
Aceh World Time Logo
Redaksi | Tentang kami | Pedoman Media Siber
Copyright © 2026 AWT