
ACEH UTARA — Alunan ketukan alat musik tradisional Alee Tunjang turut memeriahkan rangkaian Milad Samudra Pasai ke-800 yang digelar di Kabupaten Aceh Utara, Jumat malam, 11 September 2026.
Kesenian tradisional yang berasal dari Buloh, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, tersebut menjadi salah satu penampilan yang membawa warna tersendiri dalam perayaan yang mengangkat kembali sejarah dan kebudayaan Aceh.
Alee Tunjang merupakan kesenian yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Buloh. Hingga kini, tradisi tersebut masih dimainkan dan terus dijaga keberadaannya sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Kuta Makmur.
Penampilan Alee Tunjang dalam momentum Milad Samudra Pasai ke-800 sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kesenian lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Ketukan yang dihasilkan dari permainan sejumlah lesung dan alee tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa identitas budaya masyarakat Buloh yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam tradisi masyarakat Buloh, Alee Tunjang memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Kesenian tersebut diyakini telah berkembang sejak masa kerajaan yang pernah berkuasa di Aceh dan kemudian terus diwariskan oleh masyarakat hingga saat ini.
Camat Kuta Makmur, Hanifza Putra, S.STP., M.Si., mengatakan penampilan Alee Tunjang pada Milad Samudra Pasai ke-800 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi budaya Kuta Makmur.
“Alee Tunjang bukan hanya sebuah permainan tradisional, tetapi merupakan bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Kuta Makmur. Kami berharap keberadaannya terus dijaga dan generasi muda dapat mengenal, mempelajari, serta melestarikannya,” ujar Hanifza Putra.
Budaya Harus Tetap Hidup
Direktur Masyara Institute, Fauzi Syam, menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui dokumentasi. Menurutnya, tradisi harus tetap diberikan ruang untuk hidup dan dimainkan di tengah masyarakat.
“Alee Tunjang memperlihatkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang di tengah perkembangan zaman. Ketika kesenian ini dimainkan dalam momentum Milad Samudra Pasai ke-800, masyarakat tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi juga melihat kembali identitas dan ingatan budaya yang hidup di Buloh,” kata Fauzi Syam.
Ia menilai keberadaan Alee Tunjang juga menunjukkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kesenian tradisional agar tidak berhenti sebagai cerita dari masa lalu.
Hal senada disampaikan Ketua Umum HIMAKMUR, Maulana Fikri Saputra. Ia menyebut keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Alee Tunjang sebagai warisan budaya Kuta Makmur.
“Kami ingin Alee Tunjang tidak hanya dikenal oleh masyarakat Buloh, tetapi juga dikenal oleh masyarakat Aceh secara lebih luas. Generasi muda harus mengambil peran agar kesenian ini tidak hilang ditelan zaman. Menjaga Alee Tunjang berarti menjaga salah satu bagian dari identitas masyarakat Kuta Makmur,” ujarnya.
Dimainkan dengan Lesung dan Alee
Alee Tunjang dimainkan secara berkelompok menggunakan sejumlah lesung dan alee yang menghasilkan pola ketukan khas.
Secara tradisional, lesung umumnya dibuat dari kayu pohon nangka, sementara alee menggunakan pelepah pohon aren. Perpaduan ketukan dari kedua alat tersebut menghasilkan bunyi khas yang menjadi identitas permainan Alee Tunjang.
Dalam perkembangannya, Alee Tunjang tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas masyarakat, tetapi juga tampil dalam berbagai kegiatan budaya dan perayaan masyarakat.
Kesenian ini menjadi salah satu cara masyarakat mempertahankan hubungan dengan tradisi yang diwariskan para pendahulu sekaligus memperkenalkannya kepada generasi berikutnya.
Penampilan Alee Tunjang dalam rangkaian Milad Samudra Pasai ke-800 menjadi pertemuan antara sejarah, budaya, dan generasi masa kini.
Di tengah perayaan yang mengangkat kembali kejayaan sejarah Samudra Pasai, ketukan Alee Tunjang dari Buloh turut membawa pesan bahwa kekayaan budaya Aceh tidak hanya tersimpan dalam peninggalan masa lalu, tetapi juga hidup melalui tradisi masyarakat yang masih dipertahankan hingga hari ini.
Dari Buloh, ketukan Alee Tunjang kembali terdengar. Bukan sekadar bunyi dari kayu dan pelepah aren, tetapi suara sebuah tradisi yang terus berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.***

BERITA TERKAIT
Kevin Diks vs Chelsea di Babak 16 Besar Conference League 2024
BOLABrigade Al-Quds Luncurkan Roket ke Pusat Komando Zionis di Khan Younis, Hancur Lebur
DUNIAMasyarakat Sipil Kritik Rencana Prabowo Temui Penggagas Indonesia Gelap Tertutup
NASIONAL