Skip to content
Logo
IG
HOME ACEH NASIONAL DUNIA POLITIK HUKUM OLAHRAGA BOLA PENDIDIKAN EKONOMI OPINI
LAINNYA ▾
KRIMINAL BUDAYA KESEHATAN WISATA EDITORIAL

Ketukan Alee Tunjang Meriahkan Milad Samudra Pasai ke-800, Warisan Budaya Buloh Kuta Makmur Tampil Kembali

Posted on September 12, 2026 by yunis buloh
Alee Tunjang dari Buloh, Kuta Makmur, tampil meriahkan Milad Samudra Pasai ke-800 di Aceh Utara — bukti kekayaan budaya lokal tetap hidup dan diwariskan.

ACEH UTARA — Alunan ketukan alat musik tradisional Alee Tunjang turut memeriahkan rangkaian Milad Samudra Pasai ke-800 yang digelar di Kabupaten Aceh Utara, Jumat malam, 11 September 2026.

Kesenian tradisional yang berasal dari Buloh, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, tersebut menjadi salah satu penampilan yang membawa warna tersendiri dalam perayaan yang mengangkat kembali sejarah dan kebudayaan Aceh.

Baca juga: Bupati Al-Farlaky Lepas Jamaah Haji Kloter 7 Embarkasi Aceh, Titip Doa untuk Kedamaian Aceh

Alee Tunjang merupakan kesenian yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Buloh. Hingga kini, tradisi tersebut masih dimainkan dan terus dijaga keberadaannya sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Kuta Makmur.

Penampilan Alee Tunjang dalam momentum Milad Samudra Pasai ke-800 sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kesenian lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Baca juga: Gubernur Mualem Buka MTQ ke-37 Aceh di Pidie Jaya: Tes Baca Al-Qur’an Jadi Syarat Masuk Sekolah dan Instansi bagi Muslim

Ketukan yang dihasilkan dari permainan sejumlah lesung dan alee tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa identitas budaya masyarakat Buloh yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam tradisi masyarakat Buloh, Alee Tunjang memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Kesenian tersebut diyakini telah berkembang sejak masa kerajaan yang pernah berkuasa di Aceh dan kemudian terus diwariskan oleh masyarakat hingga saat ini.

Baca juga: Pengawasan Program MBG Perlu Diperkuat, DPRK Aceh Utara: Jangan Sekadar Kejar Keuntungan

Camat Kuta Makmur, Hanifza Putra, S.STP., M.Si., mengatakan penampilan Alee Tunjang pada Milad Samudra Pasai ke-800 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi budaya Kuta Makmur.

“Alee Tunjang bukan hanya sebuah permainan tradisional, tetapi merupakan bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Kuta Makmur. Kami berharap keberadaannya terus dijaga dan generasi muda dapat mengenal, mempelajari, serta melestarikannya,” ujar Hanifza Putra.

Budaya Harus Tetap Hidup

Direktur Masyara Institute, Fauzi Syam, menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui dokumentasi. Menurutnya, tradisi harus tetap diberikan ruang untuk hidup dan dimainkan di tengah masyarakat.

“Alee Tunjang memperlihatkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang di tengah perkembangan zaman. Ketika kesenian ini dimainkan dalam momentum Milad Samudra Pasai ke-800, masyarakat tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi juga melihat kembali identitas dan ingatan budaya yang hidup di Buloh,” kata Fauzi Syam.

Ia menilai keberadaan Alee Tunjang juga menunjukkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kesenian tradisional agar tidak berhenti sebagai cerita dari masa lalu.

Hal senada disampaikan Ketua Umum HIMAKMUR, Maulana Fikri Saputra. Ia menyebut keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Alee Tunjang sebagai warisan budaya Kuta Makmur.

“Kami ingin Alee Tunjang tidak hanya dikenal oleh masyarakat Buloh, tetapi juga dikenal oleh masyarakat Aceh secara lebih luas. Generasi muda harus mengambil peran agar kesenian ini tidak hilang ditelan zaman. Menjaga Alee Tunjang berarti menjaga salah satu bagian dari identitas masyarakat Kuta Makmur,” ujarnya.

Dimainkan dengan Lesung dan Alee

Alee Tunjang dimainkan secara berkelompok menggunakan sejumlah lesung dan alee yang menghasilkan pola ketukan khas.

Secara tradisional, lesung umumnya dibuat dari kayu pohon nangka, sementara alee menggunakan pelepah pohon aren. Perpaduan ketukan dari kedua alat tersebut menghasilkan bunyi khas yang menjadi identitas permainan Alee Tunjang.

Dalam perkembangannya, Alee Tunjang tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas masyarakat, tetapi juga tampil dalam berbagai kegiatan budaya dan perayaan masyarakat.

Kesenian ini menjadi salah satu cara masyarakat mempertahankan hubungan dengan tradisi yang diwariskan para pendahulu sekaligus memperkenalkannya kepada generasi berikutnya.

Penampilan Alee Tunjang dalam rangkaian Milad Samudra Pasai ke-800 menjadi pertemuan antara sejarah, budaya, dan generasi masa kini.

Di tengah perayaan yang mengangkat kembali kejayaan sejarah Samudra Pasai, ketukan Alee Tunjang dari Buloh turut membawa pesan bahwa kekayaan budaya Aceh tidak hanya tersimpan dalam peninggalan masa lalu, tetapi juga hidup melalui tradisi masyarakat yang masih dipertahankan hingga hari ini.

Dari Buloh, ketukan Alee Tunjang kembali terdengar. Bukan sekadar bunyi dari kayu dan pelepah aren, tetapi suara sebuah tradisi yang terus berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.***

Komentar Batalkan balasan

BERITA TERKAIT

Kevin Diks vs Chelsea di Babak 16 Besar Conference League 2024

BOLA

Brigade Al-Quds Luncurkan Roket ke Pusat Komando Zionis di Khan Younis, Hancur Lebur

DUNIA

Masyarakat Sipil Kritik Rencana Prabowo Temui Penggagas Indonesia Gelap Tertutup

NASIONAL

Berita Populer

Aceh World Time Logo
PORTAL BERITA TERDEPAN

Baca Berita Terkini & Terpercaya

Informasi akurat & transparan seputar Aceh & Nasional.

Kunjungi Website
INSTAGRAM OFFICIAL

Jangan Lewatkan Update Visual Menarik!

Follow @acehworldtimenews untuk berita harian tercepat.

Follow Instagram
AKSES BERITA 24 JAM

Kabar Terkini Dalam Genggaman Anda

Cepat, tajam, dan up-to-date setiap saat.

Baca Sekarang
©2026 Aceh World Time | Design: Newspaperly WordPress Theme
Aceh World Time Logo
Redaksi | Tentang kami | Pedoman Media Siber
Copyright © 2026 AWT