
ACEH UTARA – Di sebuah sudut sunyi Gampong Paya Teungoh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, suara ketukan kayu dan aroma khas kulit lembu menjadi harmoni harian bagi Tgk. Muhammad Isa Daud. Di usianya yang telah menginjak 89 tahun, langkah kakinya mungkin tak lagi segegas dahulu, namun jemarinya masih begitu perkasa dan presisi saat merajut bilah-bilah kayu menjadi sebilah rapa’i—alat musik perkusi tradisional kebanggaan masyarakat Aceh.

Pria yang akrab disapa Teungku Amad ini bukan sekadar perajin biasa. Ia adalah salah satu benteng pertahanan terakhir dari generasi pembuat instrumen tradisional di serambi Mekah. Melalui tangannya, berbagai alat musik magis khas Aceh lahir, mulai dari Rapa’i Geleng, Canang, Gendrang, Serunee Kalee, hingga Tambo. Bagi Pak Amad, setiap rapa’i yang ia buat bukan sekadar benda mati, melainkan sebuah warisan sejarah yang memiliki jiwa dan seni unik tersendiri.
Menggema hingga Lintas Benua
Kesetiaan Teungku Amad pada dunianya yang sunyi ini rupanya terdengar hingga ke belahan dunia lain. Meski bengkel kerjanya bersahaja di samping rumah, karya seni buatannya telah melanglang buana menembus batas negara. Peminat dan kolektor alat musik tradisi dunia dari Turki, Australia, Brunei Darussalam, hingga Malaysia, rela mengantre demi mendapatkan rapa’i hasil pahatan tangan sang maestro.

Bagi para kolektor internasional, rapa’i buatan Teungku Amad memiliki nilai filosofis dan kualitas suara dentuman yang tak bisa digantikan oleh mesin modern. Ada ketelitian dalam memilih jenis kayu, kesabaran dalam menjemur kulit, dan ketulusan doa yang diselipkan di setiap ikatannya.
Asa di Balik Usia Senja
Kemarin hari Senin tanggal 21September 2026, saya berkesempatan mengabadikan aktivitas harian Pak Amad di bengkelnya di samping rumahnya, saya merekam aktifitasnya.

Sosok ayah sekaligus tulang punggung keluarga yang terus bertahan menjaga denyut kebudayaan Aceh di tengah gempuran zaman modern.

Di balik senyum ramahnya yang keriput, tersimpan harapan besar agar seni pembuatan rapa’i ini tidak terkubur bersama usia. Menjadi pembuat rapa’i yang tersisa di daerahnya bukanlah sebuah kebanggaan yang dicari oleh Teungku Amad, melainkan sebuah panggilan jiwa sekaligus kegelisahan mendalam akan siapa yang bakal meneruskan estafet kebudayaan ini kelak.
Oleh: Zulfadli Kawom

BERITA TERKAIT
Aceh Besar Juara Umum MTQ XXXVII Aceh 2025
ACEHPersijap Jepara Promosi ke Liga 1 Berkat Gol Leo Lelis
BOLAKadinsos Aceh Dr. Muslem Tekankan Pendampingan Lansia dan Disabilitas dalam Penyaluran Bantuan Beras
ACEH