
NAGAN RAYA — Situasi di Kabupaten Nagan Raya kembali memanas. Setelah sebelumnya menggelar aksi demonstrasi dan menyerahkan petisi kepada pemerintah, Aliansi RANUB (Rakyat Aceh untuk Beutong) kembali menyatakan sikap terkait polemik rencana dan izin pertambangan di wilayah Beutong Ateuh.
Pada Minggu (30/8/2026), masyarakat di Beutong Ateuh dilaporkan mengibarkan bendera bulan bintang sebagai bentuk ekspresi kekecewaan terhadap Pemerintah Kabupaten Nagan Raya yang dinilai belum memberikan kejelasan terkait persoalan pertambangan di wilayah tersebut.
Aliansi RANUB menyebut pengibaran bendera tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk provokasi, melainkan sebagai simbol kekecewaan masyarakat yang merasa aspirasinya belum mendapatkan respons serius dari pemerintah daerah.
“Ini bukanlah provokasi. Ini adalah bukti kalau pemerintah sudah buta dan tuli ketika rakyat menjerit,” demikian sikap yang disampaikan Aliansi Rakyat Aceh untuk Beutong.
Menurut Aliansi RANUB, hingga saat ini belum ada keputusan resmi yang dianggap memberikan kepastian kepada masyarakat terkait persoalan izin pertambangan di wilayah Beutong Ateuh. Petisi yang sebelumnya disampaikan masyarakat juga disebut belum mendapatkan tindak lanjut yang jelas.
“Kami sudah menempuh berbagai upaya. Demo sudah. Surat sudah. Tapi pemerintah memilih diam. Maka kami pilih cara lain agar didengar,” ujar perwakilan Aliansi Rakyat Aceh untuk Beutong.
Aliansi tersebut menegaskan bahwa pengibaran bendera bulan bintang merupakan bentuk penolakan terhadap segala bentuk aktivitas pertambangan di Beutong Ateuh, termasuk terhadap izin dua perusahaan yang menurut mereka telah diterbitkan pemerintah.

Mereka juga menilai ketidakjelasan sikap pemerintah daerah telah memperpanjang keresahan masyarakat.
“Kami tegaskan kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, jangan lagi mempermainkan rakyat Beutong. Kami menuntut Pemerintah Nagan Raya segera menindaklanjuti persoalan ini dengan serius,” tegas mereka.
Aliansi RANUB secara khusus meminta Bupati Nagan Raya segera mengambil langkah konkret dalam merespons tuntutan masyarakat Beutong Ateuh.
Menurut mereka, persoalan tersebut tidak boleh terus dibiarkan tanpa penyelesaian karena berpotensi memperbesar ketegangan di tengah masyarakat.
“Jika pemerintah terus memilih diam, maka jangan salahkan rakyat jika cara-cara konstitusional lainnya akan terus kami lakukan. Diamnya pemerintah hari ini adalah bibit konflik esok hari,” tegas Aliansi RANUB.
Mereka juga meminta dukungan media dan seluruh elemen masyarakat agar persoalan yang disuarakan warga Beutong Ateuh tidak berhenti begitu saja.
“Cukup sudah rakyat menjerit sementara penguasa tidur,” pungkas pernyataan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Nagan Raya terkait pernyataan Aliansi RANUB dan aksi pengibaran bendera bulan bintang tersebut.***

BERITA TERKAIT
Dua Tahun Kepemimpinan TRK–Raja Sayang, Ipelmasra Tuntut Bukti Nyata untuk Rakyat
ACEHInvestasi Rp200 Triliun Menggema, Suara Rakyat Nagan Raya Dipertanyakan
ACEHKurir Ganja 6 Kg Ditangkap di Nagan Raya, Sempat Sembunyikan Barang Bukti
KRIMINAL