ACEH UTARA – Ketidakpastian pencairan bantuan banjir di Kecamatan Dewantara menuai sorotan dari Himpunan Mahasiswa Dewantara. Hingga kini, masyarakat setempat dilaporkan belum menerima bantuan, meskipun peristiwa banjir telah berlalu sekitar lima bulan.
HIMADA menyampaikan keprihatinan atas kondisi tersebut, mengingat di sejumlah kecamatan lain bantuan serupa disebut telah terealisasi. Perbedaan ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait proses, mekanisme, serta kendala yang menyebabkan bantuan di Dewantara belum tersalurkan.
“Ini menjadi perhatian serius kami. Masyarakat membutuhkan kejelasan dan kepastian, terutama terkait hak mereka atas bantuan pascabencana,” demikian disampaikan HIMADA dalam pernyataan resminya, Minggu (19/4/2026).
Dalam pernyataan itu, HIMADA mengajukan sejumlah tuntutan kepada pihak terkait. Pertama, meminta penjelasan resmi mengenai alasan belum terealisasinya pencairan bantuan di Dewantara. Kedua, mendorong transparansi data penerima dan proses penyaluran agar dapat diakses masyarakat. Ketiga, meminta adanya kepastian waktu atau timeline pencairan bantuan. Keempat, mengajak semua pihak memastikan distribusi bantuan berjalan adil dan merata.
Ketua Umum HIMADA, Khalid Azizi, menegaskan pentingnya komunikasi terbuka antara pemerintah dan masyarakat dalam situasi ini.
“Dalam proses penyaluran bantuan tentu ada tahapan dan kendala. Namun masyarakat sangat membutuhkan kepastian. Kami berharap ada komunikasi yang terbuka serta solusi konkret agar bantuan ini segera dirasakan oleh masyarakat Dewantara,” ujarnya.
Sebagai langkah lanjutan, HIMADA berencana melakukan audiensi dan komunikasi langsung dengan pihak terkait untuk memperoleh penjelasan yang lebih komprehensif sekaligus mendorong percepatan realisasi bantuan.
HIMADA juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal persoalan ini secara konstruktif serta berperan sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah, demi memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran dan tepat waktu.***









Komentar