Aceh Budaya
Beranda » Warisan Leluhur Tetap Hidup, Petani Pulo Iboih Gelar Khanduri Blang Sambut Musim Tanam

Warisan Leluhur Tetap Hidup, Petani Pulo Iboih Gelar Khanduri Blang Sambut Musim Tanam

Suasana kebersamaan masyarakat Gampong Pulo Iboih, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, saat menyiapkan hidangan dan berkumpul dalam tradisi Khanduri Blang, Kamis (11/6/2026)

ACEH UTARA – Tradisi Khanduri Blang yang telah diwariskan secara turun-temurun masih terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Aceh hingga saat ini. Sebagai bagian tak terpisahkan dari adat dan budaya masyarakat agraris, tradisi ini kembali digelar oleh para petani di Gampong Pulo Iboih, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, pada Kamis (11/6/2026).

Khanduri Blang merupakan acara syukuran atau kenduri yang rutin digelar sebelum para petani memulai aktivitas bercocok tanam di sawah. Kegiatan ini diisi dengan doa bersama dan makan bersama sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus harapan agar musim tanam berjalan lancar dan menghasilkan panen yang melimpah ruah.

Keujruen Blang Gampong Pulo Iboih, Bidril Husni (24), menyatakan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak zaman dahulu dan tetap dijalankan oleh masyarakat hingga generasi sekarang.

“Khanduri Blang sudah ada sejak zaman nenek moyang dan masih dilakukan sampai saat ini. Tradisi ini menjadi bagian dari budaya masyarakat tani di Aceh,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, melalui doa bersama yang dipanjatkan, para petani memohon agar tanaman padi yang akan ditanam dapat tumbuh subur, terhindar dari serangan hama, penyakit, maupun bencana alam, serta memberikan hasil yang memuaskan saat panen tiba.

Huntara Langkahan Kembali Rusak Diterjang Angin, FKM Pasee: Bukti Kegagalan Jamin Keselamatan Warga

“Kami berdoa kepada Allah agar hasil sawah melimpah, tidak dimakan hama, dan diberikan kemudahan dalam setiap prosesnya hingga musim panen tiba,” katanya.

Suasana pelaksanaan doa bersama dan pembagian berkat dalam tradisi Khanduri Blang di Gampong Pulo Iboih, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (11/6/2026). Warga berkumpul memanjatkan doa memohon perlindungan, kemudahan, dan hasil panen yang melimpah sebelum memulai musim tanam di sawah.

Selain sebagai sarana bermohon dan bersyukur, Khanduri Blang juga menjadi ajang mempererat silaturahmi dan kekompakan antarpetani. Acara biasanya diselenggarakan di sekitar area persawahan, dengan prinsip kebersamaan yang kental. Setiap warga membawa bahan makanan dan lauk-pauk secara bergotong royong, mulai dari ayam kampung hingga bahan masakan lainnya.

Semua bahan tersebut kemudian dimasak bersama-sama di lokasi, sebelum akhirnya dinikmati secara bersamaan oleh seluruh warga yang hadir.

Bidril menambahkan, tradisi ini umumnya dilaksanakan sebanyak dua kali dalam satu tahun, disesuaikan dengan siklus musim tanam yang berlaku di wilayah tersebut.

“Selain sebagai ungkapan rasa syukur, kegiatan ini juga menjadi momen kebersamaan dan memperkuat kekompakan para petani di desa,” pungkasnya.

JASA Aceh Utara Dukung Langkah Tegas Mualem Perjuangkan Hak Aceh di Proyek Migas Raksasa

Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, Khanduri Blang tetap bertahan sebagai salah satu identitas budaya Aceh. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan nilai religius yang dipegang teguh masyarakat, tetapi juga mengandung semangat gotong royong dan kebersamaan yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement