
ACEH BESAR – Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) memperkuat kapasitas remaja melalui Pelatihan dan Pembinaan Kader Edukator-Konselor Sebaya SAPHYRA yang digelar di Gampong Garot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 26–27 September 2026, tersebut diikuti tujuh calon kader. Pelatihan menjadi bagian dari program SAPHYRA (Save Planetary Health Youth Ranger) yang mendorong keterlibatan remaja dalam edukasi terkait kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan mental, serta kesiapsiagaan bencana.
Program ini menempatkan remaja sebagai salah satu bagian dari sumber daya masyarakat yang dapat berperan dalam menyampaikan edukasi sekaligus membangun dukungan positif di lingkungan sekitarnya.
Selama pelatihan, para peserta mendapatkan sejumlah materi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sebagai calon edukator-konselor sebaya.
Pada Sabtu (26/9), materi yang diberikan meliputi Pengenalan SAPHYRA dan Edukator-Konselor Sebaya, serta Teknik Edukasi yang Menyenangkan (Fun Education Techniques) yang disampaikan oleh Executive Director GEN-A, dr. Imam Maulana.
Peserta juga mendapatkan Pelatihan Dasar Penggunaan AI untuk Pembuatan Media Edukasi dan Publikasi yang disampaikan oleh Safiratun Nadia.
Memasuki hari kedua, peserta mendapatkan materi Dukungan Psikososial dan Pertolongan Pertama Psikologis (Psychological First Aid/PFA) bagi Penyintas Banjir, yang disampaikan Khansa Khiara Giatasa M.
Selain itu, peserta juga mengikuti Modul Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi Forum Anak yang disampaikan Chairul Azmi.
Berbagai materi tersebut dirancang tidak hanya untuk memperkenalkan konsep SAPHYRA, tetapi juga membekali calon kader dengan kemampuan menyampaikan edukasi, mengembangkan kapasitas organisasi, memanfaatkan teknologi dan media komunikasi, serta memahami aspek kesehatan mental, lingkungan dan kebencanaan.
Dalam pelaksanaan program SAPHYRA, peran edukator-konselor sebaya diarahkan untuk membangun kapasitas remaja agar mampu menciptakan lingkungan yang saling mendukung. Pengetahuan mengenai dukungan psikososial dan PFA menjadi salah satu bekal penting, khususnya dalam menghadapi kondisi masyarakat setelah terjadi bencana.
Salah seorang peserta, Syifa, mengaku mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru selama mengikuti pelatihan.
“Kegiatannya sangat seru dan materinya sangat bermanfaat. Saya belajar banyak di sini, mulai dari cara menjadi edukator-konselor, mengenal PFA, dan lain-lain. Saya harap kegiatan ini bisa terus berlanjut dan memotivasi banyak remaja lain,” ujarnya.
Sementara itu, Chairul Azmi menekankan pentingnya penerapan pengetahuan yang telah diperoleh peserta setelah mengikuti pelatihan.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap para calon kader tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan kegiatan di masyarakat,” kata Chairul.
Ia berharap SAPHYRA dapat menjadi ruang bagi remaja untuk belajar, berkembang, saling mendukung, serta berkontribusi dalam isu kesehatan mental, kesehatan lingkungan dan kesiapsiagaan bencana.
Pelatihan tersebut menjadi tahap awal pembinaan calon kader SAPHYRA. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan melalui kegiatan edukasi dan pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan keterlibatan remaja pada isu kesehatan dan ketangguhan menghadapi bencana.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, SAPHYRA diarahkan menjadi ruang belajar bagi remaja untuk mengembangkan kapasitas sekaligus memberikan kontribusi nyata di lingkungan masyarakat.
Para kader yang terbentuk nantinya diharapkan mampu meneruskan pengetahuan yang diperoleh melalui edukasi sebaya serta berbagai kegiatan kemasyarakatan secara berkelanjutan.***

BERITA TERKAIT
Mualem Pimpin Diskusi Internasional Peringati 20 Tahun Perdamaian Aceh
ACEH1.571 Jemaah Haji Aceh Berangkat ke Tanah Suci, Kloter 5 Segera Lepas Landas 10 Mei
ACEHBupati Aceh Timur Temui Pengunjuk Rasa, Tegaskan Komitmen Dampingi Penyintas Banjir
ACEH