
NEW YORK – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato tegas dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Rabu (23/9/2026). Di hadapan komunitas internasional, Pezeshkian menegaskan bahwa tekanan, sanksi, dan ancaman Amerika Serikat tidak akan membuat Iran menyerah.
Pidato tersebut menjadi penampilan Pezeshkian di forum diplomatik internasional sejak perang antara Iran, Amerika Serikat dan Israel pecah pada akhir Februari 2026.
Pezeshkian menanggapi keras pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sehari sebelumnya mengancam akan “memusnahkan” Republik Islam Iran apabila kesepakatan untuk mengakhiri perang tidak tercapai.
“Presiden Amerika Serikat menyebut kami teroris. Kami adalah korban terorisme,” kata Pezeshkian dalam pidatonya.
Ia juga menuduh Amerika Serikat bertanggung jawab atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel pada awal perang. Sambil memperlihatkan foto Khamenei, Pezeshkian mengatakan Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang.
Pezeshkian kemudian menunjukkan foto anak-anak yang disebutnya menjadi korban serangan terhadap sebuah sekolah di Iran.
“Anak-anak ini tewas dalam pengeboman menggunakan senjata yang digunakan Amerika Serikat dan Israel. Mereka tidak bersalah,” ujarnya.
Tegaskan Iran Tak Akan Menyerah
Dalam pidatonya, Pezeshkian menegaskan bahwa tekanan Washington justru akan memperkuat perlawanan rakyat Iran.
“(Trump) harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran justru akan semakin kuat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan dan intimidasi. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala atau bertekuk lutut,” kata Pezeshkian.
Meski menyampaikan kritik keras terhadap Washington, Pezeshkian juga menyatakan Iran tetap membuka ruang bagi diplomasi. Ia mengatakan Teheran mengulurkan tangan kepada dunia untuk bekerja sama, yang menunjukkan bahwa jalur negosiasi belum sepenuhnya tertutup.
Selat Hormuz Jadi Titik Ketegangan
Pezeshkian juga menyinggung Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik utama ketegangan selama konflik.
Menurutnya, Iran tidak dapat menerima apabila negara lain memiliki akses terhadap jalur tersebut sekaligus menggunakannya dalam tindakan yang dianggap sebagai agresi terhadap Iran.
“Kami tidak bisa membiarkan pihak tertentu memiliki akses bebas dan memperkuat kepentingan mereka melalui jalur air tersebut, sementara pada saat yang sama menggunakan jalur itu untuk melancarkan agresi terhadap kami,” katanya.
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan energi global. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut telah berdampak terhadap harga minyak dan energi internasional.
AS-Iran Masih Jauh dari Kesepakatan
Pidato Pezeshkian berlangsung ketika upaya diplomatik antara Washington dan Teheran masih berjalan, tetapi kedua pihak dilaporkan masih memiliki perbedaan besar.
Sehari sebelumnya, Trump mengatakan perwakilan AS yang dipimpin utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner telah bertemu dengan pejabat Iran. Trump menyebut pertemuan tersebut berlangsung sekitar tiga jam dan berjalan produktif.
Namun, laporan Reuters menyebut Iran dan Amerika Serikat masih memiliki jarak yang cukup besar dalam pembicaraan mengenai penyelesaian konflik, termasuk isu blokade laut dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sementara itu, kehadiran Pezeshkian di New York sebelumnya sempat menjadi tanda tanya karena masalah visa bagi sebagian anggota delegasinya. Pemerintah AS akhirnya mengizinkan kunjungan Pezeshkian ke markas PBB, meski beberapa anggota rombongannya tidak memperoleh visa.
Pidato tersebut menunjukkan bahwa di tengah ancaman militer dan tekanan ekonomi, Teheran masih mempertahankan sikap keras terhadap Washington sekaligus menyisakan ruang bagi jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik.***

BERITA TERKAIT
Tsunami Setinggi 1,5 Meter Landa Hawaii, Ancaman Gelombang Susulan Masih Membayangi
DUNIADelegasi Berbondong-bondong Tinggalkan Sidang PBB Saat Netanyahu Berpidato
DUNIASerangan Terbaru AS di Iran Berlangsung Selama Dua Jam
DUNIA