ACEH TAMIANG – Tiga bulan setelah banjir bandang dan longsor menerjang Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, kondisi para korban belum sepenuhnya pulih. Sejumlah warga terdampak masih tinggal di pengungsian maupun tenda darurat sambil menanti kepastian program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon) atas rumah mereka yang rusak.
Muhammad Hendra Vramenia, warga Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, menjadi salah satu penyintas yang hingga kini belum bisa kembali ke rumahnya. Ia bersama keluarga sementara menetap di rumah orang tuanya di Opak, Kecamatan Bendahara.
Hendra mengatakan, belum ada informasi jelas mengenai perbaikan atau pembangunan kembali rumahnya yang terdampak banjir pada akhir November 2025.
“Sudah tiga bulan berlalu sejak bencana, kami masih tinggal di rumah mamak di Opak. Sampai sekarang belum ada kepastian kapan rumah kami diperbaiki atau dibangun kembali,” ujar Hendra, Jumat (27/02/2026).
Ia menuturkan, persoalan yang dihadapi bukan semata soal tempat tinggal, tetapi juga menyangkut kepastian masa depan keluarganya. Selama tiga bulan terakhir, keluarganya harus berbagi tempat dengan kerabat dalam keterbatasan ruang dan fasilitas.
“Kami bersyukur keluarga menerima kami dengan baik. Namun tentu tidak bisa selamanya seperti ini. Anak-anak membutuhkan ruang yang layak dan kepastian. Kami ingin segera bangkit dan menata kehidupan kembali,” katanya.
Hendra berharap pemerintah pusat dan daerah, termasuk instansi terkait, segera menyampaikan informasi terbuka mengenai pendataan kerusakan, mekanisme penyaluran bantuan, serta jadwal pelaksanaan rehab rekon.
Menurut dia, yang paling memberatkan bukan hanya kerusakan fisik bangunan, melainkan ketidakjelasan proses yang berlangsung berlarut-larut. “Kalau memang ada tahapan yang harus dilalui, sampaikan secara terbuka kepada kami. Jangan biarkan kami menunggu tanpa kabar. Tiga bulan bukan waktu yang singkat bagi korban bencana,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan, sejumlah penyintas lain di berbagai titik terdampak masih berada dalam situasi serupa. Ada yang menumpang di rumah keluarga, tinggal di hunian sementara dengan fasilitas terbatas, hingga bertahan di tenda pengungsian.
“Kami tidak ingin hanya diingat saat bencana terjadi dan ramai diberitakan. Setelah itu seakan semuanya selesai, padahal kami masih berjuang setiap hari,” ucapnya.
Para penyintas berharap proses verifikasi data dan realisasi bantuan dapat dipercepat. Bagi mereka, rehab rekon bukan sekadar membangun kembali rumah yang rusak, melainkan menjadi tanda harapan untuk memulai kehidupan yang sempat hancur akibat bencana.



Komentar