Aceh News
Beranda » Teungku Nyak Sandang Wafat di Usia 100 Tahun, Jejak Pengabdian untuk Negeri Tak Terlupakan

Teungku Nyak Sandang Wafat di Usia 100 Tahun, Jejak Pengabdian untuk Negeri Tak Terlupakan

Almarhum Teungku Nyak Sandang, sosok patriot penyumbang dana pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, diabadikan bersama ikon sejarah Seulawah RI-001.

ACEH JAYA – Kabar duka datang dari Aceh. Nyak Sandang, sosok yang dikenal atas kontribusinya dalam pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, meninggal dunia pada Selasa (7/4/2026) sekitar pukul 12.00 WIB di kediamannya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.

Informasi tersebut disampaikan oleh cucunya, Ataillah. Ia menyebutkan bahwa almarhum mengembuskan napas terakhir di rumah setelah sebelumnya lebih banyak beraktivitas di dalam rumah karena faktor usia.

“Kakek meninggal jam 12 tadi di rumah,” ujar Ataillah saat dikonfirmasi.

Menurut keluarga, Nyak Sandang juga sempat beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit dalam beberapa waktu terakhir. Rencananya, almarhum akan dimakamkan di kampung halamannya di Desa Lhuet, sementara pihak keluarga kini tengah melaksanakan proses fardu kifayah.

Kepergian Nyak Sandang pada usia 100 tahun meninggalkan duka mendalam, terutama karena jasanya yang besar bagi negara. Ia dikenal sebagai salah satu penyumbang utama dalam pengadaan pesawat Seulawah RI-001, pesawat pertama milik Indonesia.

Popularitas Dipersoalkan, Muda Seudang Sebut Imum Jon Fokus Kerja Nyata

Sosok Sederhana dengan Jiwa Patriot

Nyak Sandang, yang memiliki nama lengkap Teungku Nyak Sandang bin Lamudin, merupakan sosok rakyat biasa asal Aceh yang menunjukkan dedikasi luar biasa terhadap negara.

Di usia senjanya, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena kondisi fisik yang menurun. Meski demikian, kisah perjuangannya tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Kontribusi yang diberikannya menjadi bukti bahwa perjuangan bangsa tidak hanya dilakukan oleh tokoh besar, tetapi juga oleh rakyat kecil dengan semangat pengorbanan tinggi.

Peran Penting dalam Sejarah Seulawah RI-001

Kabar Duka, Pemodal Pesawat Selawah RI, Teungku Nyak Sandang Meninggal Dunia

Untuk memahami besarnya jasa Nyak Sandang, perlu melihat kembali situasi Indonesia pada tahun 1948. Saat itu, Indonesia yang baru merdeka menghadapi tekanan agresi militer Belanda.

Dalam kondisi tersebut, Soekarno melakukan kunjungan ke Aceh untuk mengajak masyarakat berkontribusi dalam pengadaan pesawat sebagai sarana strategis perjuangan.

Nyak Sandang yang saat itu berusia 23 tahun tergerak untuk membantu. Ia menyumbangkan aset berharganya berupa sebidang tanah dengan sekitar 40 batang kelapa, yang kemudian dijual seharga Rp100 perak. Selain itu, ia juga menyumbangkan emas seberat 10 gram pada tahun 1950.

Kontribusi tersebut menjadi bagian dari penggalangan dana rakyat Aceh untuk membeli pesawat Dakota yang kemudian dikenal dengan nama Seulawah RI-001.

Nama “Seulawah” sendiri berarti “Gunung Emas”, mencerminkan kontribusi emas dari masyarakat Aceh dalam pembelian pesawat tersebut.

Bupati Aceh Timur Temui Pengunjuk Rasa, Tegaskan Komitmen Dampingi Penyintas Banjir

Sebagai bukti, Nyak Sandang menerima surat obligasi dari pemerintah Indonesia yang mencatat sumbangan tersebut sebagai utang negara kepada rakyat Aceh. Dokumen itu disimpan dengan baik selama puluhan tahun dan menjadi bukti penting keterlibatan masyarakat Aceh dalam sejarah penerbangan Indonesia.

Dikenal Luas dan Diberi Penghargaan

Kisah Nyak Sandang mulai dikenal luas publik pada 2018 setelah keberadaan surat obligasi tersebut terungkap. Sejak itu, perhatian terhadap sosoknya semakin meningkat.

Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, bahkan sempat menemui Nyak Sandang dan memenuhi sejumlah kebutuhannya, mulai dari operasi katarak, ibadah umrah, hingga pembangunan masjid di kampung halamannya.

Sebagai bentuk penghargaan negara, Nyak Sandang juga dianugerahi Bintang Jasa Utama oleh Presiden Prabowo Subianto. Momen penganugerahan tersebut berlangsung penuh haru ketika Presiden Prabowo menunjukkan penghormatan dengan membungkuk saat menyematkan lencana.

“Saya hanya ingin menyampaikan atas nama negara dan bangsa, terima kasih atas jasa-jasa pengabdian saudara,” ujar Presiden Prabowo dalam kesempatan tersebut.

Warisan Nilai Patriotisme

 

Kisah hidup Nyak Sandang menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya diwarnai oleh tokoh besar, tetapi juga oleh rakyat biasa dengan semangat luar biasa.

Pengorbanannya dalam menyumbangkan harta di masa sulit mencerminkan kecintaan mendalam terhadap Tanah Air. Nilai-nilai patriotisme yang ditinggalkannya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa.

Nyak Sandang bukan sekadar nama dalam catatan sejarah, melainkan simbol pengabdian tulus seorang rakyat kepada negara.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement