Aceh Pendidikan
Beranda » Istri Bupati Aceh Timur Raih Gelar Doktor di UIN Ar-Raniry, Usung Model Pendidikan PAUD Berbasis Meuseuraya

Istri Bupati Aceh Timur Raih Gelar Doktor di UIN Ar-Raniry, Usung Model Pendidikan PAUD Berbasis Meuseuraya

Suasana usai sidang promosi doktor di Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Tampak Lismawani (tengah) bersama suaminya, Bupati Aceh Timur, serta para penguji dan tim promotor usai dinyatakan lulus mempertahankan disertasinya.

BANDA ACEH — Lismawani menuntaskan satu fase penting dalam hidupnya dengan meraih gelar doktor setelah sukses mempertahankan disertasinya di UIN Ar-Raniry, Jumat (10/4/2026).

Sidang promosi doktor yang berlangsung di lantai tiga Gedung Pascasarjana itu tak hanya diwarnai paparan akademik, tetapi juga kisah ketekunan dalam menyeimbangkan peran sebagai akademisi dan ibu rumah tangga.

Lismawani mengangkat penelitian tentang implementasi kebijakan pemerintah daerah dalam mendukung pendidikan anak usia dini (PAUD) yang bermutu.

Dari riset tersebut, ia memperkenalkan pendekatan baru yang dinamakan Model Meuseuraya-Integratif. Model ini menggabungkan peran pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat dengan berlandaskan nilai gotong royong khas Aceh, yakni meuseuraya, serta prinsip keagamaan Hifz Al-Nasl yang menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan keturunan.

“Faktor pendukung utama penyelenggaraan PAUD bermutu di Aceh Timur adalah komitmen pejabat daerah dan peran aktif Bunda PAUD sebagai pemersatu,” ujar Lismawani dalam sidang tersebut.

Kak Na Dikukuhkan sebagai Ibunda Guru Aceh, Siap Perjuangkan Kesejahteraan dan Profesionalisme Pendidik

Meski demikian, ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi. Ego sektoral antarorganisasi perangkat daerah serta keterbatasan infrastruktur internet di wilayah pelosok dinilai menjadi kendala dalam pemerataan layanan pendidikan usia dini.

Sebagai solusi, Lismawani merekomendasikan integrasi sistem pelaporan guru dalam satu pintu. Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk menyusun regulasi tegas terkait pemanfaatan dana desa dalam pembiayaan PAUD, agar akses layanan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh anak di Aceh Timur.

Menjelang akhir sidang, suasana berubah haru saat Lismawani menyampaikan pidato penutup. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan refleksi pribadinya selama menempuh pendidikan doktoral.

“Berdiri di podium ini, di depan para Guru Besar yang luar biasa, saya merasa sangat kecil. Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa,” tuturnya.

Ia mengisahkan perjuangannya menjalani studi di tengah tanggung jawab domestik, tanpa sokongan jabatan struktural seperti sebagian rekan sejawatnya. Baginya, capaian gelar doktor bukan sekadar prestise, melainkan bagian dari komitmen untuk mendorong kemajuan pendidikan anak usia dini di daerahnya.***

Ilham Rizky Maulana Bantah Tuduhan Dukung Pembentukan Empat Batalyon di Aceh: Itu Hoaks yang Berbahaya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement