
PUTRAJAYA – Dua siswa Sekolah Rakyat dipercaya menjadi delegasi Indonesia dalam 9th ASEAN Children’s Forum (ACF). Forum anak tingkat regional ini mempertemukan perwakilan anak dari negara-negara ASEAN untuk membahas isu perlindungan anak.
Perwakilan tersebut adalah Misfan Nazriel Faturrahman, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, serta Jasmia Kusuma Dewi, siswi Sekolah Rakyat DKI Jakarta. Bersama dua delegasi dari Forum Anak Nasional, keduanya mewakili Indonesia pada forum bertema Shielding ASEAN Childhood: Say No to Violence yang berlangsung pada 04/08/2026–05/08/2026 di Putrajaya, Malaysia, secara hybrid.
Forum ASEAN Bahas Pencegahan Kekerasan terhadap Anak
Forum yang diselenggarakan di bawah koordinasi Senior Officials Meeting on Social Welfare and Development (SOMSWD) menjadi ruang bagi anak-anak dari negara ASEAN untuk saling bertukar pengalaman, menyampaikan pandangan, serta menyusun rekomendasi mengenai pencegahan kekerasan terhadap anak. Rekomendasi tersebut nantinya akan menjadi masukan bagi kebijakan perlindungan anak di kawasan ASEAN.
Misfan dan Jasmia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara daring dari Aston Imperial Bekasi dengan pendampingan guru Sekolah Rakyat serta mentor dari Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).
Selama kegiatan berlangsung, kedua delegasi bersama peserta dari negara lain mengikuti presentasi, diskusi kelompok, hingga penyusunan rekomendasi bersama terkait kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah, keluarga, ruang digital, dan masyarakat.
Delegasi Indonesia Paparkan Lima Bentuk Kekerasan terhadap Anak
Dalam forum tersebut, delegasi Indonesia mempresentasikan lima bentuk kekerasan terhadap anak yang menjadi perhatian di Indonesia, yaitu kekerasan fisik, psikologis atau emosional, kekerasan seksual, kekerasan digital, dan penelantaran.
Misfan menjelaskan bahwa seluruh materi dipersiapkan sendiri oleh empat delegasi Indonesia, mulai dari penyusunan naskah hingga memastikan seluruh data telah diverifikasi sebelum dipresentasikan kepada delegasi negara lain.
“Kita membuat semua dari video, bikin teks, diskusi, dan brainstorming berempat. Kita pakai data-data yang ada dari beberapa kementerian, lalu di-fact check dan double check juga, termasuk memastikan bahasanya sudah benar dan sopan,” ujar delegasi Indonesia Misfan Nazriel Faturrahman dalam keterangan tertulis, Selasa (04/08/2026).
Persiapan menuju forum dilakukan bersama guru pendamping di Sekolah Rakyat selama sekitar satu minggu. Selain memperdalam isu kekerasan terhadap anak, para delegasi juga mempelajari berbagai istilah berbahasa Inggris yang berkaitan dengan topik pembahasan.
Guru Bahasa Inggris Sekolah Rakyat DKI Jakarta, Tahta Aulia Pangestika, mengaku bangga melihat siswanya mampu mewakili Indonesia dalam forum internasional.
“Ini pertama kali juga siswa Sekolah Rakyat bisa ikut dalam forum internasional. Kami banyak melakukan riset kasus-kasus yang terjadi di Indonesia maupun ASEAN. Selama sekitar satu minggu kami fokus brainstorming dan mempelajari istilah-istilah yang akan digunakan dalam forum,” kata Guru Bahasa Inggris Sekolah Rakyat DKI Jakarta Tahta Aulia Pangestika.
Pengalaman Perdana di Forum Internasional
Bagi Jasmia, kesempatan menjadi delegasi Indonesia sempat membuatnya merasa gugup. Namun, pengalaman tersebut justru meningkatkan rasa percaya dirinya.
“Sebelumnya saya benar-benar deg-degan karena ini pertama kali ikut acara sebesar ini. Tapi ternyata pas hari H tidak semenakutkan itu. Setelah dijalani, ternyata bisa,” ujar delegasi Indonesia Jasmia Kusuma Dewi.
Sebelum mengikuti forum ASEAN, Jasmia aktif dalam berbagai kegiatan di Sekolah Rakyat, seperti lomba Bulan Bahasa, berpidato dalam bahasa Inggris, hingga menjadi pembawa acara pada kegiatan Open House Sekolah Rakyat yang dihadiri Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
“Sebelumnya paling saya ikut lomba-lomba biasa. Terus pernah pidato bahasa Inggris dan jadi MC di kegiatan Sekolah Rakyat. Jadi ini pengalaman yang benar-benar baru buat saya,” kata Jasmia Kusuma Dewi.
Sementara itu, Misfan mengaku sempat membayangkan forum tersebut akan menjadi tantangan besar karena mempertemukan peserta dari berbagai negara ASEAN.
“Awalnya saya pikir pasti berat karena ini tingkat ASEAN dan pesertanya pasti jago-jago. Tapi ya dijalankan saja. Jangan merasa terlalu berat, percaya diri sama kemampuan sendiri,” ujarnya.
Di luar kegiatan akademik, Misfan juga aktif mengikuti berbagai kompetisi dan organisasi, di antaranya Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika, debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Paskibra, pencak silat, serta taekwondo.
“Saya memang masih banyak eksplorasi. Ikut OSN, debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Paskibra, silat, sampai taekwondo. Kalau pelajaran saya paling suka IPA karena ingin masuk teknik penerbangan atau aerospace engineering,” katanya.
Tahta berharap pencapaian tersebut menjadi awal lahirnya lebih banyak prestasi dari siswa-siswa Sekolah Rakyat di tingkat nasional maupun internasional.
“Harapannya nanti anak-anak Sekolah Rakyat yang lain juga bisa mengikuti kegiatan seperti ini, baik di bidang Bahasa Inggris maupun bidang lainnya, sampai tingkat nasional bahkan internasional,” ujarnya.

BERITA TERKAIT
Hampir 200 Ribu Anak Terpapar Judol, Menkomdigi: Alarm Serius Masa Depan Generasi
NASIONALMenag Apresiasi Komitmen Presiden Prabowo Dukung Santri dan Pesantren
NASIONALUIN Ar-Raniry Juara Riset Nasional, PMII: Bukti Ikhtiar Ilmu yang Menenangkan
PENDIDIKAN