Aceh
Beranda » Akses Tiga Desa di Aceh Tengah Lumpuh, Warga Kembali Bertaruh Nyawa Gunakan Sling

Akses Tiga Desa di Aceh Tengah Lumpuh, Warga Kembali Bertaruh Nyawa Gunakan Sling

Akses Tiga Desa di Aceh Tengah Lumpuh, Warga Kembali Bertaruh Nyawa Gunakan Sling

ACEH TENGAH – Intensitas hujan yang tinggi di wilayah Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, mengakibatkan jembatan darurat yang menghubungkan tiga desa terputus total. Kondisi ini menyebabkan mobilitas warga di Kampung Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Reduk kembali terisolasi akibat ketiadaan jalur transportasi darat yang memadai.

“Sudah beberapa hari ini akses terputus. Arus kendaraan yang menuju Kampung Bergang, Karang Ampar, hingga Pantan Reduk kini lumpuh sepenuhnya,” ungkap Agus, salah satu perangkat desa di Kampung Bergang, Sabtu (11/04/2026).

Kronologi Ambruknya Jembatan

Agus memaparkan bahwa sebelum jembatan benar-benar hancur, luapan debit air sungai secara terus-menerus telah mengikis fondasi dan material penyangga jembatan hingga posisinya menjadi miring. Meski sempat dipaksakan untuk dilalui kendaraan roda dua, derasnya arus sungai pada 7 April 2026 akhirnya menyeret struktur jembatan kayu tersebut.

Kejadian ini praktis mematikan urat nadi transportasi masyarakat setempat. Mengingat jembatan kayu tersebut merupakan akses tunggal bagi warga di tiga kampung tersebut, aktivitas ekonomi dan sosial kini terhenti total.

Di sisi lain, proyek pembangunan jembatan Bailey yang diproyeksikan sebagai solusi jangka panjang hingga kini masih dalam tahap pengerjaan.

PBSI Rilis Komposisi Skuad Garuda untuk Thomas & Uber Cup 2026

“Proses pengerjaan jembatan Bailey masih berlangsung, sehingga belum dapat dioperasikan. Jika dipaksakan melintas, risikonya sangat besar karena bagian lantainya belum terpasang dan hanya bisa dilalui pejalan kaki dengan sangat hati-hati,” tambah Agus.

Penggunaan Tali Penyeberangan (Sling)

Demi menyambung hidup dan tetap bisa beraktivitas, masyarakat setempat terpaksa mengaktifkan kembali penggunaan sling atau tali penyeberangan manual untuk melintasi sungai. Alat ini merupakan bantuan lama yang pernah digunakan saat wilayah tersebut dilanda bencana serupa di masa lalu.

“Sling lama dari bantuan bencana sebelumnya kami pasang kembali agar warga bisa menyeberang,” tutur seorang warga di lokasi kejadian.

Walaupun menyadari bahaya yang mengintai, warga mengaku tidak memiliki pilihan lain demi menjaga roda perekonomian mereka tetap berputar.

“Tidak ada alternatif lain. Meskipun nyawa taruhannya, kami harus tetap melintas karena ini menyangkut kelangsungan ekonomi keluarga kami,” pungkasnya dengan nada pasrah. (Ody Cempeudak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement