
ACEH UTARA – Di pedalaman Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, tersimpan jejak sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan kolonial Belanda. Kawasan Baroh Kuta Batee menjadi bagian dari kisah perlawanan yang dikaitkan dengan sosok Teuku Cut Banta (1860–1928), tokoh lokal yang dikenal dalam narasi sejarah setempat sebagai pemimpin pertahanan wilayah Muroeng.
Kawasan yang kini dikenal sebagai Kuta Batee tersebut menyimpan cerita tentang keteguhan para pejuang dalam mempertahankan wilayahnya di tengah agresi militer Belanda pada akhir abad ke-19.
Nama Teuku Cut Banta lekat dengan kisah perjuangan rakyat yang berupaya mempertahankan kedaulatan Aceh. Salah satu cerita yang berkembang dalam narasi sejarah lokal adalah keterlibatannya dalam upaya melindungi Sultan Muhammad Daud Syah, sultan terakhir Kesultanan Aceh, ketika tekanan militer kolonial semakin meningkat.
Kisah Penyelamatan Sultan Muhammad Daud Syah
Pada penghujung abad ke-19, Belanda semakin memperketat operasi militernya untuk melemahkan perlawanan Kesultanan Aceh. Sultan Muhammad Daud Syah dan para pendukungnya menghadapi tekanan yang semakin besar seiring meluasnya operasi pasukan kolonial ke berbagai wilayah pedalaman.
Dalam kisah sejarah lokal Muroeng, kawasan Kuta Batee disebut memiliki peran penting sebagai wilayah pertahanan dan jalur pergerakan para pejuang.
Teuku Cut Banta dikisahkan mengonsolidasikan kekuatan rakyat dan para pengikutnya untuk menghadapi pergerakan pasukan Belanda. Strategi pertahanan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan kondisi geografis, termasuk parit, rawa, dan kawasan yang ditumbuhi pepohonan lebat.
Di tengah situasi pertempuran, para pejuang berupaya menghalangi pergerakan pasukan kolonial agar rombongan yang dilindungi dapat bergerak menuju kawasan yang lebih aman.
Narasi lokal menghubungkan perjuangan tersebut dengan jalur menuju Blang Barat hingga Syamtalira Bayu. Meski demikian, detail kronologi penyelamatan Sultan dan keterlibatan langsung Teuku Cut Banta masih memerlukan penguatan melalui sumber sejarah tertulis maupun kesaksian yang dapat diverifikasi.
Raja Kicak dan Para Pejuang Muroeng
Perjuangan mempertahankan wilayah Muroeng tidak hanya dikaitkan dengan Teuku Cut Banta. Kisah tersebut juga mengenang para pengikut dan pejuang lokal yang disebut turut mempertahankan kawasan Kuta Batee.
Salah satu nama yang muncul dalam cerita sejarah setempat adalah Raja Kicak, yang juga disebut Raja Gukguk. Ia digambarkan sebagai sosok kepercayaan Teuku Cut Banta yang berada di garis depan ketika menghadapi pasukan pengepung.
Menurut narasi lokal, Raja Kicak gugur dalam pertempuran dan dimakamkan di kompleks Pemakaman Masjid Kuta Batee.
Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan masyarakat mengenai pengorbanan para pejuang yang mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan wilayah dan membantu perjuangan Kesultanan Aceh.
Selain itu, para pengikut kesultanan, uleebalang, dan masyarakat setempat disebut menjadi bagian penting dari kekuatan pertahanan Muroeng. Kebersamaan mereka mencerminkan peran masyarakat lokal dalam menghadapi ekspansi kolonial Belanda.
Kuta Batee, Kawasan Pertahanan yang Menantang Belanda
Kondisi geografis Muroeng menjadi salah satu unsur penting dalam cerita perlawanan di kawasan tersebut. Rawa, parit, tanah berlumpur, dan pepohonan lebat digambarkan sebagai bagian dari lanskap yang dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan.
Dalam narasi perjuangan lokal, kondisi alam tersebut menjadi tantangan bagi pasukan kolonial yang berusaha memasuki kawasan pertahanan rakyat.
Benteng atau kuta dalam tradisi Aceh bukan sekadar bangunan pertahanan, tetapi juga menjadi simbol perlindungan bagi masyarakat dan pusat perlawanan terhadap ancaman dari luar.
Sebutan Kuta Batee sendiri mengingatkan masyarakat pada jejak kawasan pertahanan yang dikaitkan dengan timbunan batu dan tanah. Seiring berjalannya waktu, sebagian peninggalan fisik yang disebut berkaitan dengan benteng tersebut diyakini telah tertimbun atau menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
Namun, untuk memastikan bentuk, luas, usia, dan kondisi sisa benteng, diperlukan pendataan arkeologis serta dokumentasi sejarah yang lebih terperinci.
Jejak Sejarah di Baroh dan Tunoeng Kuta Batee
Secara administratif, Gampong Baroh Kuta Batee berada di Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Nama Kuta Batee juga dikenal melalui penyebutan Baroh Kuta Batee dan Tunoeng Kuta Batee di kawasan tersebut.
Wilayah ini berada di lingkungan pedesaan yang memiliki karakter agraris, dengan permukiman masyarakat dan bentang alam yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di tengah perubahan zaman, nama Kuta Batee tetap menyimpan nilai historis bagi masyarakat setempat. Cerita mengenai Teuku Cut Banta dan para pejuang Muroeng menjadi pengingat bahwa sejarah perlawanan Aceh tidak hanya berlangsung di pusat-pusat kekuasaan, tetapi juga melibatkan wilayah pedalaman dan komunitas lokal.
Keberadaan makam yang dikaitkan dengan para pejuang, cerita turun-temurun, serta penamaan geografis merupakan unsur penting yang dapat ditelusuri lebih lanjut untuk memperkuat dokumentasi sejarah daerah.
Merawat Warisan Perjuangan untuk Generasi Mendatang
Kisah Teuku Cut Banta dan perjuangan di Kuta Batee merupakan bagian dari narasi sejarah lokal yang layak mendapatkan perhatian. Upaya menelusuri kembali kisah tersebut dapat dilakukan melalui penelitian arsip, wawancara dengan keturunan pejuang dan tokoh masyarakat, pendataan makam, serta kajian terhadap kemungkinan peninggalan benteng pertahanan.
Dokumentasi yang akurat penting agar kisah kepahlawanan tidak hanya diwariskan melalui cerita lisan, tetapi juga memiliki landasan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi masyarakat Aceh Utara, Kuta Batee bukan sekadar nama sebuah kawasan. Tempat ini menyimpan potensi warisan sejarah yang dapat memperkaya pemahaman generasi muda mengenai perjuangan masyarakat Aceh dalam menghadapi kolonialisme.
Merawat ingatan tentang masa lalu berarti menjaga identitas daerah sekaligus memberikan ruang bagi generasi berikutnya untuk mengenali, meneliti, dan menghargai sejarah tanah kelahirannya.(*)
Oleh: Zulfadli Kawom

BERITA TERKAIT
Gubernur Aceh Kirim Surat ke Gubernur Massachusetts, Usulkan Pelestarian Jejak Sejarah Aceh
ACEH27 Tahun Tragedi Simpang KKA: Antara Ingatan, Trauma dan Narasi Sejarah yang Mulai Dilupakan
OPINITeungku Nyak Sandang Wafat di Usia 100 Tahun, Jejak Pengabdian untuk Negeri Tak Terlupakan
ACEH