
BANDA ACEH — Bahaya narkoba tak hanya berujung pada persoalan hukum, tetapi juga dapat merusak kesehatan mental dan fisik serta memengaruhi kehidupan sosial. Persoalan tersebut menjadi fokus seminar “The Real Impact of Drugs: Fakta, Risiko Kesehatan, dan Strategi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba” yang digelar DEMA FEBI UIN Ar-Raniry.
Kegiatan yang diinisiasi Departemen Riset dan Informasi tersebut berlangsung di Teater FEBI UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (5/10/2026). Seminar mengajak mahasiswa memahami persoalan narkoba dari berbagai perspektif, mulai dari hukum, kesehatan, hingga tantangan sosial pascarehabilitasi.
Wakil Dekan III FEBI UIN Ar-Raniry, Fithriadi, Lc., Ph.D., mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, narkoba bukan sekadar persoalan hukum atau individu, melainkan masalah bersama yang dapat mengancam masa depan generasi muda.
“Mahasiswa jangan hanya menjadi penonton, ambil peran mulai dari menjaga diri sendiri lalu mengedukasi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Sesi pertama menghadirkan Ketua Tim Pencegahan BNN Kota Banda Aceh, Muhammad Taufan, S.I.Kom., yang membahas perubahan pola peredaran narkoba di era digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi turut mengubah pola peredaran narkoba sehingga generasi muda perlu meningkatkan kewaspadaan.
“Teknologi mempermudah akses sekaligus memperluas jangkauan peredaran. Generasi muda wajib waspada, karena risiko juga semakin dekat,” katanya.
Dari perspektif kesehatan, Konsultan Psikiatri Adiksi Dr. Syahrial, Sp.KJ., membahas fenomena self-medication, ketergantungan, dampak terhadap sistem saraf, serta stigma terhadap orang yang mengalami adiksi.
“Adiksi adalah masalah kesehatan, bukan sekadar pelanggaran moral. Penanganan butuh empati dan pemahaman menyeluruh,” ujarnya.
Sementara itu, Penyuluh Sosial Dinas Sosial Aceh, Hersie Malahayatie Shandra, A.KS., M.AP., mengangkat persoalan pascarehabilitasi dan risiko relapse atau kekambuhan.
Ia menekankan pentingnya dukungan keluarga, lingkungan pergaulan, dan penerimaan masyarakat dalam membantu seseorang mempertahankan proses pemulihan.
“Pemulihan tidak berakhir di gerbang rehabilitasi. Dukungan keluarga, pergaulan, dan penerimaan masyarakat adalah kunci agar mereka tidak kembali terjerumus,” jelasnya.
Ketua Departemen Riset dan Informasi DEMA FEBI UIN Ar-Raniry, Ilham Muyassar, mengatakan tiga perspektif tersebut sengaja dihadirkan agar mahasiswa tidak hanya mengetahui bahaya narkoba, tetapi juga memahami akar persoalan dan langkah pencegahannya.
“Kami ingin mahasiswa tidak sekadar hadir, lalu pulang. Semoga kesadaran ini tumbuh menjadi gerakan nyata di lingkungan masing-masing,” katanya.
Seminar tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah awal untuk memperkuat gerakan pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan kampus dan masyarakat melalui edukasi, kepedulian, serta dukungan bersama.***

BERITA TERKAIT
Investasi Rp200 Triliun Menggema, Suara Rakyat Nagan Raya Dipertanyakan
ACEHRSU Cut Meutia Peringati Hari Kesehatan Ginjal Dunia 2025
ACEHKapolda Aceh Laksanakan Silaturahmi Halal Bi Halal Bersama Forkopimda Aceh
ACEH