
BANDA ACEH – Tokoh pers Aceh sekaligus salah satu pendiri Harian Serambi Indonesia, H. Sjamsul Kahar, meninggal dunia pada Kamis (24/9/2026) pukul 02.20 WIB di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.
Sjamsul Kahar merupakan ayahanda Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. Kabar duka tersebut disampaikan melalui laman resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Kepergian Sjamsul Kahar menjadi kehilangan besar bagi keluarga sekaligus dunia pers Aceh. Selama puluhan tahun, ia mendedikasikan dirinya untuk dunia jurnalistik dan turut membangun perkembangan pers di Tanah Rencong.
Jejak Panjang Bersama Serambi Indonesia
Sjamsul Kahar lahir di Sigli pada 9 Oktober 1945. Namanya memiliki kaitan erat dengan perjalanan panjang Harian Serambi Indonesia.
Bersama M. Nourhalidyn, Sjamsul Kahar mengembangkan Mimbar Swadaya hingga menjadi Harian Serambi Indonesia yang terbit perdana pada 9 Februari 1989.
Sebelum dipercaya memimpin redaksi Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar dikenal sebagai wartawan Kompas yang bertugas di Aceh.
Dari ruang redaksi, ia turut membangun Serambi Indonesia hingga berkembang menjadi salah satu media yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Di bawah kiprahnya, Serambi Indonesia menjadi ruang informasi bagi masyarakat mengenai berbagai persoalan daerah, mulai dari sosial, politik, ekonomi, budaya hingga berbagai peristiwa kemanusiaan.
Menghadapi Ancaman di Tengah Konflik Aceh
Perjalanan Sjamsul Kahar sebagai jurnalis berlangsung dalam situasi penuh tantangan, termasuk ketika Aceh berada dalam periode konflik.
Pada 1999, rumahnya diserang bom molotov. Ia juga pernah menerima ancaman kematian yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi Serambi Indonesia.
Meski menghadapi berbagai tekanan, perjalanan jurnalistiknya terus berlanjut. Pers tetap menjadi bagian penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat Aceh di tengah situasi yang tidak mudah.
Menghidupkan Kembali Serambi Indonesia Pascatsunami
Salah satu catatan penting dalam perjalanan Sjamsul Kahar terjadi ketika tsunami dahsyat menghantam Aceh pada 26 Desember 2004.
Bencana tersebut menghancurkan kantor dan mesin cetak Serambi Indonesia. Sejumlah pekerja media menjadi korban maupun hilang sehingga penerbitan koran sempat terhenti.
Namun, Sjamsul Kahar bersama rekan-rekannya memilih untuk menghidupkan kembali Serambi Indonesia.
Enam hari setelah tsunami, tepatnya pada 1 Januari 2005, Serambi Indonesia kembali terbit dengan sumber daya terbatas dan menggunakan mesin cetak di Lhokseumawe.
Kembalinya surat kabar tersebut menjadi sangat berarti bagi masyarakat Aceh yang tengah menghadapi situasi pascabencana.
Saat itu, informasi mengenai kondisi wilayah, keberadaan anggota keluarga, bantuan kemanusiaan hingga proses pemulihan menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat yang terdampak tsunami.
Kehadiran kembali Serambi Indonesia juga memperlihatkan peran pers dalam situasi krisis. Selain mencatat peristiwa, media menjadi sarana masyarakat memperoleh informasi dan memahami perkembangan kondisi di tengah proses pemulihan.
Tiga Periode Memimpin PWI Aceh
Selain dikenal melalui kiprahnya di Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar juga memiliki perjalanan panjang dalam organisasi profesi wartawan.
Ia tercatat memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh selama tiga periode, yakni 1985–1991, 1991–1995, dan 1995–1999.
Pada masa kepemimpinannya, kelembagaan PWI Aceh turut berkembang, termasuk pembangunan gedung PWI Aceh di Jalan T. Angkasah, Banda Aceh.
Perhatiannya terhadap sejarah pers dan profesi wartawan juga tetap terlihat hingga tahun-tahun terakhir kehidupannya.
Pada 2023, ketika PWI Aceh menampilkan sejarah perjalanan organisasi dalam Pekan Kebudayaan Aceh, Sjamsul Kahar mengingatkan pentingnya sejarah pers diketahui masyarakat dan generasi muda.
Warisan bagi Pers Aceh
Kepergian Sjamsul Kahar meninggalkan catatan panjang dalam perjalanan pers Aceh.
Ia merupakan bagian dari generasi yang ikut membangun fondasi jurnalistik di daerah tersebut. Kiprahnya berlangsung melewati berbagai fase penting Aceh, mulai dari masa konflik hingga bencana tsunami dan proses pemulihan.
Bagi keluarga, Sjamsul Kahar merupakan ayahanda Nezar Patria. Sementara bagi komunitas pers, ia dikenang sebagai salah satu tokoh yang turut membangun perjalanan jurnalistik Aceh melalui Serambi Indonesia dan organisasi profesi wartawan.
Ucapan duka pun mengalir dari berbagai kalangan.
“Selamat jalan, Abu. Pejuang pers ka neuwoe bak Rahmatullah. Geutanyoe kaleuh meureuluih sangee, pers Aceh kaleuh geutinggai le sago peukateuen nyang raya.”
Artinya:
Selamat jalan, Ayah. Pejuang pers telah kembali ke rahmatullah. Kita telah kehilangan pelindung dan panutan, pers Aceh telah ditinggalkan oleh salah satu pilar besar perjuangannya.
Selamat jalan, H. Sjamsul Kahar. Dedikasi dan perjalanan panjangnya menjadi bagian dari sejarah pers Aceh.***

BERITA TERKAIT
INNALILLAHI, Ibunda Bupati Aceh Timur Meninggal Dunia
ACEHVidi Aldiano Meninggal Dunia
BERITATeungku Nyak Sandang Wafat di Usia 100 Tahun, Jejak Pengabdian untuk Negeri Tak Terlupakan
ACEH