Sebanyak 1.200 jiwa atau 260 kepala keluarga (KK) di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, menjalani hari pertama Ramadhan 1447 Hijriah dalam kondisi memprihatinkan. Hingga Kamis (19/2/2026), para korban banjir bandang masih bertahan di tenda darurat dan bangunan papan sederhana yang didirikan di sekitar lokasi rumah mereka yang telah luluh lantak.
Sebagian warga membangun tenda di atas lahan bekas rumah yang hancur diterjang banjir pada 26 November 2025. Ada pula yang memanfaatkan sisa material bangunan yang terseret arus untuk mendirikan tempat tinggal sementara.
“Sampai sekarang kami belum tahu seperti apa bentuk hunian sementara (Huntara) untuk Desa Sekumur. Belum ada pembangunan sama sekali, padahal desa kami hancur total,” ujar salah seorang penyintas, Wahyu Rahmah, saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Masjid Jadi Bangunan yang Tersisa
Kondisi Desa Sekumur saat ini dilaporkan sangat memprihatinkan. Selain satu unit masjid dan dua rumah warga, seluruh bangunan di desa tersebut rata dengan tanah akibat terjangan banjir bandang.
Masjid menjadi satu-satunya bangunan yang masih berdiri kokoh dan kini difungsikan sebagai pusat kegiatan ibadah warga selama Ramadhan.
“Alhamdulillah, masjid kami masih bisa dipakai untuk shalat tarawih. Hanya masjid itu yang utuh saat banjir 26 November 2025 lalu, selebihnya semuanya hancur,” tutur perempuan yang akrab disapa Wara tersebut.
Selain persoalan tempat tinggal, warga juga mengeluhkan keterbatasan pasokan bahan pangan. Selama ini, kebutuhan makanan lebih banyak dipenuhi melalui bantuan relawan yang datang ke wilayah pedalaman tersebut, sementara bantuan dari pemerintah dinilai masih minim.
Harapan Segera Dibangun Huntara
Sekretaris Desa Sekumur, M. Saiful Juari, membenarkan bahwa ratusan kepala keluarga masih bertahan di lokasi pengungsian. Sebagai salah satu desa dengan dampak terparah, ia berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan hunian sementara dan memastikan kebutuhan dasar warga selama bulan suci terpenuhi.
“Kami berharap pemerintah segera membangun hunian sementara dan mencukupi kebutuhan bahan pangan bagi pengungsi selama Ramadhan,” kata Saiful.
Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Muhammad Fajri, mengaku belum dapat memastikan perkembangan pembangunan Huntara di wilayah tersebut.
“Saya cek dulu datanya,” ujarnya singkat.
Desa Sekumur sebelumnya sempat menjadi sorotan karena terisolasi saat banjir besar melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025. Meski sejumlah Huntara telah dijanjikan untuk desa-desa terdampak, hingga kini proses pembangunannya dilaporkan belum rampung.



Komentar