
Washington – Kesepakatan Selat Hormuz antara Amerika Serikat (AS), Iran, dan Oman dikabarkan semakin mendekati tahap final. Kesepakatan sementara tersebut ditujukan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia.
Kesepakatan itu diharapkan mampu menurunkan ketegangan di Timur Tengah. Selain itu, langkah tersebut dapat menjadi jalan untuk memulai kembali pembicaraan mengenai gencatan senjata dan negosiasi program nuklir Iran.
Laporan Axios yang mengutip dua sumber regional dan seorang pejabat AS menyebut Washington menargetkan pengumuman kesepakatan pada Rabu (05/08/2026) waktu setempat.
Perundingan telah berlangsung selama beberapa pekan dan melibatkan AS, Iran, serta Oman. Rencana tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran pada akhir pekan lalu dan memilih melanjutkan upaya diplomasi.
Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Teheran. Gedung Putih juga berharap kesepakatan dapat segera tercapai.
Kesepakatan Selat Hormuz Bahas Jalur Pelayaran
Iran dan Oman secara terpisah terus mematangkan pembahasan mengenai mekanisme pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan pembicaraan bilateral tersebut berfokus pada pembentukan jalur aman bagi kapal yang masuk maupun keluar dari Teluk Persia.
Menurut Baghaei, pengaturan tersebut dibuat dengan tetap menghormati hak kedaulatan masing-masing negara serta mempertimbangkan kepentingan keamanan nasional Iran dan Oman.
“Hasil akhir dari negosiasi ini akan diumumkan setelah seluruh proses pembahasan selesai,” kata Baghaei, seperti dikutip kantor berita Pemerintah Iran, IRNA.
Dua pejabat regional yang berbicara kepada Associated Press (AP) dengan syarat anonim menyebut rancangan kesepakatan mengatur kapal yang masuk ke Teluk Persia melalui jalur di wilayah yang dikelola Iran. Sementara kapal yang keluar akan menggunakan jalur yang berada di bawah pengelolaan Oman.
Rancangan awal juga memuat usulan biaya layanan yang disebut ditujukan untuk membiayai pengamanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim.
Namun, kedua pejabat tersebut menegaskan bahwa pembahasan masih berlangsung sehingga isi akhir kesepakatan masih dapat mengalami perubahan.
Pembukaan Selat Hormuz Bergantung pada Washington
Salah satu bagian penting dalam perundingan adalah pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sejumlah sumber menyebut kesepakatan akan sulit diterapkan apabila Washington masih mempertahankan kebijakan tersebut.
Sementara itu, pemerintahan Trump sebelumnya telah menyatakan tidak akan mendukung kesepakatan yang memberikan kendali penuh kepada Iran atas Selat Hormuz.
Bagi Teheran, pengakuan resmi terhadap perannya dalam pengelolaan jalur pelayaran tersebut akan menjadi kemenangan strategis besar.
Atas alasan itu, AS diperkirakan masih memiliki kemungkinan menghambat penerapan kesepakatan apabila memutuskan tidak mencabut blokade.
Sebelum konflik antara AS dan Israel dengan Iran meningkat pada akhir Februari, Selat Hormuz berstatus sebagai jalur pelayaran internasional yang terbuka bagi kapal-kapal komersial.
AS Ingin Selat Hormuz Tetap Netral
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan Washington tetap menginginkan kondisi seperti sebelumnya. Artinya, tidak boleh ada satu negara yang memiliki kendali eksklusif atas jalur pelayaran tersebut atau kemampuan untuk membatasi akses transit kapal.
Trump kembali menyampaikan sikap tersebut ketika berbicara kepada wartawan pada Senin (03/08/2026). Ia menolak rencana penerapan biaya atau tol bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
“Saya tidak akan membiarkan mereka mengenakan biaya. Jika ada yang mengenakan biaya, kami juga akan mengenakan biaya,” ujar Trump, dikutip dari Euronews.
Dalam pernyataan terbarunya pada Rabu, Trump kembali memberikan peringatan keras kepada Iran. Ia mengatakan Selat Hormuz harus segera dibuka atau Iran akan menghadapi konsekuensi yang sangat berat.
Kesepakatan Sementara Selat Hormuz Berlaku 60 Hari
Menurut laporan Axios, rancangan kesepakatan sementara tersebut akan berlaku setidaknya selama 60 hari. Dalam periode itu, Iran dan Oman akan mengelola Selat Hormuz secara bersama-sama.
Kapal yang masuk ke Teluk Persia akan menggunakan jalur utara di wilayah Iran. Sementara kapal yang keluar akan diarahkan melewati jalur selatan di perairan Oman.
Selama masa transisi, kapal tidak akan dikenakan biaya tol maupun pungutan lainnya. Iran dan Oman juga akan melakukan pembersihan ranjau di jalur tengah selat dalam waktu 30 hari.
Setelah proses tersebut selesai, jalur median akan dibuka untuk lalu lintas dua arah berdasarkan kesepakatan permanen yang tengah dipersiapkan.
AS Terlibat dalam Negosiasi Selat Hormuz
Perundingan tersebut turut melibatkan utusan khusus Trump, Steve Witkoff. Ia disebut melakukan komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan menteri luar negeri Oman.
Sumber Axios menyebut Araghchi telah menyetujui rancangan kesepakatan. Namun, penerapannya masih membutuhkan persetujuan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei serta Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Seorang pejabat AS bersama salah satu sumber regional mengatakan kepemimpinan Iran telah memberikan persetujuan pada Selasa (04/08/2026). Kondisi tersebut membuat peluang tercapainya kesepakatan dinilai semakin besar.
Qatar dan Centcom Dukung Kelancaran Pelayaran
Qatar, yang selama ini berperan sebagai mediator dalam berbagai pembicaraan terkait Iran, turut menyatakan dukungan terhadap upaya normalisasi pelayaran di Selat Hormuz.
Penasihat Perdana Menteri sekaligus Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, dr Majid bin Mohammed Al-Ansari, mengatakan negaranya berharap aktivitas pengiriman komersial melalui selat tersebut dapat kembali ke tingkat sebelum konflik pecah.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan jalur pelayaran di bagian selatan Selat Hormuz masih terbuka. Dalam tiga bulan terakhir, lebih dari 1.000 kapal telah menggunakan jalur tersebut untuk melintasi kawasan itu.
Iran telah lama menginginkan pengelolaan bersama Selat Hormuz dengan Oman karena kedua negara berbagi wilayah di sepanjang jalur perairan strategis tersebut.
Ketegangan yang meningkat sejak Februari lalu membuat sebagian besar lalu lintas pelayaran di kawasan itu sempat terhenti. Kesepakatan Selat Hormuz yang kini dibahas menjadi bagian dari upaya untuk memulihkan aktivitas perdagangan internasional di salah satu jalur laut paling vital di dunia.

BERITA TERKAIT
Kapal Kayu Tanpa Identitas Ludes Terbakar di Perairan Bintan, Awak Kapal Raib
PERISTIWAKPK Ciduk Bupati Pemalang di Hotel Jakarta, Temukan Uang di Mobil
HUKUMBupati Aceh Utara Terpilih Jalani Pemeriksaan Kesehatan Jelang Retreat di Akmil Magelang
ACEH